Pengenalan Pendidikan Seni Rupa Indonesia Lengkap

10:59:00 AM
TAMBANGILMU.COM - Kesenian merupakan suatu faktor yang menyebabkan keanekaragaman suatu wilayah. Tanpa adanya kesenian, maka wilayah tersebut akan terkesan kaku di mata masyarakat lain. Indonesia merupakan salah satu wilayah di dunia yang memiliki ragam kesenian yang di tinggalkan oleh leluhur. Pada kesempatan ini admin tambangilmu akan membagikan tentang pengenalan pendidikan seni rupa indonesia yang akan dijelaskan secara lengkap dan mudah untuk dimengerti.


A. SIFAT-SIFAT UMUM SENI RUPA INDONESIA

Bersifat Tradisional (statis)
Dengan adanya kebudayaan agraris mengarah pada bentuk kesenian yang berpegang pada suatu kaidah yang turun temurun.

Bersifat Progresif
Dengan adanya kebudayaan maritim, bentuk kesenian Indonesia sering dipengaruhi dengan kebudayaan luar yang kemudian di padukan dan dikembangkan sehingga menjadi milik bangsa Indonesia sendiri.

Bersifat Kebinekaan
Indonesia sendiri terdiri dari beberapa daerah yang memiliki keadaan lingkungan dan alam yang berbeda, sehingga melahirkan bentuk ungkapan seni yang beraneka ragam.

Bersifat Seni Kerajinan
Dengan kekayaan alam Indonesia yang menghasilkan berbagai macam bahan untuk membuat kerajinan.

Bersifat Non Realis
Dengan latar belakang agama asli yang primitif berpengaruh pada ungkapan seni yang selalu bersifat perlambangan atau disebut sebagai simbolisme.


B. SENI RUPA PRASEJARAH INDONESIA

Jaman prasejarah atau Prehistory adalah jaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen yang menuliskan mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaan tersebut berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan suatu bentuk kesenian sebagai media upacara yang bersifat simbolisme. Jaman prasejarah Indonesia terbagi atas: 

Jaman Batu dan Jaman Logam 

1. Seni Rupa Jaman Batu 

Jaman batu terbagi lagi menjadi 4, yaitu jaman batu tua (Palaeolithikum), jaman batu menengah (Mesolithikum), jaman batu muda (Neolithikum), lalu berkembang kesenian dari batu di jaman logam disebut jaman batu besar (Megalithikum), Peninggalan – peninggalannya yaitu:

Seni Bangunan
Manusia Phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara yang disebut dengan nomaden dan berburu atau mengumpulkan makanan, tanda – tanda munculnya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolithikum. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Irian Jaya dan Sulawesi Selatan. Berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang yang disebut Klokkenmodinger sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan.

Kemudian jaman Neolithikum, manusia sudah bercocok tanam dan berternak serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu atau bambu. Pada jaman Megalithikum sudah banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu memiliki ukuran besar yang digunakan untuk keperluan upacara agama seperti punden, sarkofaq, dolmen, meja batu, dan lain-lain.

Seni Patung
Seni patung berkembang pada jaman Neolithikum, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala dan bergaya non realistis yang terbuat dari kayu atau batu. Kemudian jaman Megalithikum banyak ditemukan patung – patung yang berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural. 

Seni Lukis
Dari jaman Mesolithikum ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti beberapa lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan tersebut adalah untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegan perburuan binatang, lambang nenek moyang dan cap jari mereka. Kemudian pada jaman Neolithikum dan Megalithikum, lukisan sudah diterapkan pada bangunan – bangunan serta benda – benda kerajinan sebagai sebuah hiasan ornamentik atau motif geometris atau motif perlambang. 


2. Seni Rupa Jaman Logam

Indonesia mengenal jalan logam sebagai jaman perunggu, karena banyak ditemukan kerajinan dari bahan perunggu seperti ganderang, bejana, kapak, patung dan perhiasan. Karya seni tersebut dibuat dengan teknik mengecor (mencetak) yang dikenal dengan 2 teknik, yaitu:

  • Bivalve, adalah teknik mengecor yang biasa di berulang-ulang . 
  • Acire Perdue, adalah teknik mengecor yang hanya satu kali pakai atau tidak bisa diulang. 



C. SENI RUPA INDONESIA HINDU 

Kebudayaan Hindu berasal dari Negara India yang kemudian menyebar di Indonesia sekitar abad pertama tahun Masehi melalui kegiatan perdagangan, agama serta politik. Dengan pusat perkembangannya di Jawa, Bali dan Sumatra yang kemudian bercampur yang disebut sebagai akulturasi dengan kebudayaan asli Indonesia yaitu kebudayaan istana dan feodal. Proses akulturasi kebudayaan India dan Indonesia berlangsung melalui beberapa tahap dalam kurun waktu yang lama, yaitu dengan proses: 

  • Proses Peniruan atau imitasi. 
  • Proses Penyesuaian atau adaptasi. 
  • Proses Penguasaan atau kreasi. 

1. Ciri – Ciri Seni rupa Indonesia Hindu 
  • Bersifat Peodal, yaitu kesenian yang berpusat suatu di istana sebagai media pengabdian Raja (kultus Raja). 
  • Bersifat Sakral, yaitu kesenian yang digunakan sebagai media upacara agama. 
  • Bersifat Konvensional, yaitu kesenian yang bertolak belakang pada suatu pedoman pada sumber hukum agama atau Silfasastra. 
  • Hasil akulturasi kebudayaan dari India dengan Indonesia. 


2. Karya Seni Rupa Indonesia Hindu 

Seni Bangunan 

Bangunan Candi
Candi berasala dari kata “Candika” yang berarti nama salah satu Dewa Kematian (Dugra). Oleh karena itu candi selalu dihubungkan dengan monumen sebagai tempat memuliakan Raja yang meninggal contohnya candi Kidal untuk memuliakan Raja Anusapati. Selain itu candi pula berfungsi sebagai:

  • Candi Stupa: didirikan dengan maksud sebagai lambang Budha, contoh candi Borobudur. 
  • Candi Pintu Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contohnya candi Bajang Ratu. 
  • Candi Balai Kambang / Tirta: didirikan didekat atau ditengah kolam, contoh candi Belahan. 
  • Candi Pertapaan: didirikan di sebuah lereng – lereng tempat Raja bertapa, contohnya candi Jalatunda.
  • Candi Vihara: didirikan sebagai tempat para pendeta bersemedhi contohnya candi Sari. 

Struktur dari bangunan candi terdiri dari 3 bagian, yaitu:

  • Kaki candi adalah bagian dasar sekaligus membentuk denahnya yang berbentuk segi empat, bujur sangkar atau segi 20. 
  • Tubuh candi. Terdapat kamar – kamar sebagai tempat arca atau patung. 
  • Atap candi: berbentuk limas, bermahkotaan stupa, ratna, lingga, atau amalaka 

Bangunan candi tersebut ada yang berdiri sendiri ada pula yang kelompok. Terdapat dua sistem dalam pengelempokan candi, yaitu:

  • Sistem Konsentris (hasil pengaruh dari India) yaitu induk candi berada di tengah – tengah anak candi, contohnya seperti candi Rorojongrang dan Prambanan. 
  • Sistem Membelakangi (hasil kreasi asli Indonesia )yaitu induk candi berada di belakang anak – anak candi, contohnya seperti candi Penataran. 


Bangunan Pura
Pura merupakan bangunan tempat Dewa atau arwah leluhur yang banyak terdapat di Bali. Pura merupakan komplek bangunan yang tersusun atas tiga halaman, karena pengaruh dari candi penataran, yaitu:

  • Halaman depan terdapat balai yang digunakan untuk pertemuan. 
  • Halaman tengah terdapat balai saji. 
  • Halaman belakang terdapat padmasana, meru, dan rumah Dewa.

Seluruh bangunan dikelilingi dinding dengan pintu gerbangnya ada yang berpintu atau bertutup (kori agung) dan ada pula yang terbuka ( candi bentar). Contoh pura adalah sebagai berikut:

  • Pura agung, didirikan di suatu komplek istana. 
  • Pura gunung, didirikan di lereng gunung sebagai tempat bersemedhi. 
  • Pura subak, didirikan di daerah pesawahan. 
  • Pura laut, didirikan di pinggiran pantai. 

Bangunan Puri 

Puri adalah bangunan yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan serta pusat keagamaan. Bangunan – bangunan yang didirikan di komplek puri antara lain: Tempat kepala keluarga atau Semanggen, tempat upacara meratakan gigi atau Balain Munde, dan sebagainya.


Seni Patung

Patung di dalam ajaran agama Hindu merupakan hasil perwujudan dari seorang Raja dengan Dewa penitisnya. Orang Hindu percaya adanya Trimurti yaitu Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa. Untuk membedakan mereka setiap patung diberi atribut ke-Dewaan yang disebut laksana atau ciri-cirinya masing-masing, misalnya patung Brahma laksananya berkepala empat, bertangan empat dan kendaraannya (wahana) yaitu hangsa. Sedangkan pada patung Wisnu laksananya adalah pada mahkota yang dikenakannya terdapat bulan sabit, dan tengkorak, kendaraan berupa seekor lembu, dan sebagainya. Dalam agama Budha bisaa dipatungkan adalah sang Budha, Dhyani Budha, Dhyani Bodhidattwa dan Dewi Tara. Setiap patung Budha memiliki tanda kesucian, yaitu:
  • Rambut ikal dan berjenggot yang disebut ashnisha.
  • Diantara keningnya terdapat titik yang disebut urna
  • Telinganya panjang yang disebut lamba-karnapasa
  • Terdapat juga kerutan di bagian leher. 
  • Memakai jubah sanghati

Seni Hias

Bentuk bangunan candi sebenarnya hasil tiruan dari gunung Mahameru yang dianggap suci sebagai tempatnya para Dewa. Oleh karena itu bangunan Candi selalu diberi hiasan sesuai dengan suasana alam pegunungan, yaitu dengan motif flora dan fauna serta mahluk gaib. Bentuk hiasan candi dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

Hiasan Arsitektural merupakan hiasan yang bersifat 3 dimensional yang membentuk sebuah struktur bangunan candi, contohnya: 
  • Hiasan mahkota pada atap bangunan candi. 
  • Hisana menara sudut pada setiap bangunan candi 
  • Hiasan motif kala yaitu Banaspati pada bagian atas pintu 
  • Hiasan makara, simbar filaster,dll 

Hiasan bidang merupakan hiasan yang bersifat dua dimensional yang terdapat pada dinding atau bidang bangunan candi, contohnya: 
  • Hiasan dengan cerita, pada candi Hindu adalah cerita Mahabarata dan Ramayana, sedangkan pada candi Budha adalah cerita Jataka dan Lalitapistara. 
  • Hiasan berupa flora dan fauna
  • Hiasan berbentuk pola geometris
  • Hiasan makhluk dari khayangan


3. Kronologis Sejarah Seni rupa Hindu Budha 

a. Seni rupa Jawa Hindu periode di Jawa Tengah, terbagi atas: 

Jaman Wangsa Sanjaya
Candi hanya didirikan di daerah pegunungan saja. Seni patungnya adalah perwujudan antara manusia dengan binatang seperti lembu atau garuda.


Jaman Wangsa Syailendra
Peninggalan berupa Candi seperti : Kelompok Candi Sewu, kelompok Candi Prambanan, Candi Borobudur, Candi Sari, Candi Kalasan, Candi Mendut, dan Kelompok Candi Plaosan. Keseni anpatungnya bersifat Budhis, contohnya seperti patung Budha dan Budhisatwa di dalam Candi Borobudur. 

b. Seni Rupa Jawa Hindu periode di Jawa Timur, terbagi atas: 

Jaman Peralihan
Pada seni bangunan jaman ini sudah meperlihatkan adanya tanda – tanda gaya seni Jawa Timur seperti tampak pada Candi Belahan yaitu perubahan pada kaki candi yang bertingkat dan atapnya yang berubah makin tinggi. Kemudian pada seni patungnya dudah tidak lagi memperlihatkan tradisi India, tetapi sudah diterapkan proposisi Indonesia seperti pada patung Airlangga.

Jaman Singasari 
Pada seni bangunan jaman ini sudah benar – benar meperlihatkan gaya seni Jawa Timur baik pada struktur candi maupun pada hiasannya, contohnya: candi Kidal, candi Singosari, dan candi Jago. Kesenian patungnya bergaya Klasisistis yang sangat bertolak belakang dari gaya seni Jawa Tengah, hanya pada seni patung singosari lebih lebih halus pahatannya dan lebih kaya dengan hiasan contohnya patung Bhairawa, Prajnaparamita, dan Ganesha. 

Jaman Majapahit
Candi – candi Majapahit sebagian besar sudah tidak utuh lagi karena terbuat dari batu bata, berbeda dengan candi yang berada di Jawa Tengah yang terbuat dari batu kali atau andhesit, peninggalan candi yaitu: kelompok candi Penataran, Candi Surowono, Candi Bajangratu, Candi Triwulan, dan lain-lain.

Kemudian pada kesenian patungnya sudah tidak lagi memperlihatkan gaya klasik Jawa Tengah, namun memperlihatkan gaya magis monumental yang lebih menonjolkan tradisi Indonesia seperti tampak pada raut muka, pakaian batik dan perhiasan khas dari Indonesia. Selain kesenian patung dari batu juga dikenal kesenian patung realistik dari Terakotta atau tanah liat karena hasil pengaruh dari Campa dan China, contoh seperti patung wajah Gajah Mada. 

c. Seni Rupa Bali Hindu 

Di daerah Bali jarang sekali ditemukan candi karena masyarakatnya tidak mengenal Kultus Raja. Seni bangunan utama di Bali adalah Pura dan Puri. Pura sebagai bangunan suci tetapi di dalamnya tidak terdapat adanya patung perwujudan dari Dewa karena masyarakat Bali tidak mengenal an-Iconis yaitu tidak mengebal patung sebagai objek pemujaan, adapun patung hanya sebagai hiasan saja 


4. Perbedaan Gaya Seni Jawa Tengah Dengan Jawa Timur 

a. Perbedaan pada struktur bangunan candi, yaitu:

  • Candi Jateng dibangun dari tumpukan batu adhesit, sedangkan di Jatim terbuat dari batu bata. 
  • Candi Jateng berbentuk tambun, sedangkan di Jatim berbentuk ramping
  • Kaki pada candi Jateng tidak berundak sedangkan pada candi di Jatim berundak
  • Atap pada candi Jateng pendek, sedangkan pada candi di Jatim lebih tinggi
  • Kumpulan candi di Jateng dibangun dengan sistem konsentris, sedangkan di Jatim dengan sistem membelakangi.

b. Perbedaan pada seni patungnya, yaitu:

  • Patung – patung di daerah Jateng hanya sebagai perwujudan Dewa atau Raja sedangkan di daerah Jatim ada pula perwujudan manusia biasa
  • Seni patung di daerah Jateng bergaya simbolis realistis, sedangkan di daerah Jatim pada jaman Singasari bergaya klasisitis dan pada jaman Majapahit bergaya magis monumental. 
  • Prambandala atau lingkaran kesaktian pada patung Jateng terdapat di bagian belakang kepala, sedangkan pada patung Jatim terdapat di bagian belakang seluruh tubuh yang menyerupai lidah api. 
  • Pakaian Raja atau Dewa pada seni patung Jateng masih dipengaruhi oleh tradisi India, sedangkan di Jatim sudah khas Indonesia seperti pakaian batik, selendang serta ikat kepala. 

c. Perbedaan hiasan candinya, yaitu: 

  • Hiasan adegan cerita pada bangunan candi Jateng bergaya realis, sedangkan candi di daerah Jatim bergaya Wayang.
  • Adegan cerita pada bangunan candi Jateng hanya menceritakan tentang Mahabarata dan Ramayana, sedangkan di Jatim ada pula adegan cerita asli dari Indonesia, misalnya cerita Panji
  • Motif hias pada bangunan candi di Jateng bersifat Hindu dan Budha sedangkan pada bangunan candi di Jatim ada pula hias asli Indonesia sperti motif penawakan dan gunungan serta motif perlambangan. 
  • Hiasan pada bangunan candi di Jatim lebih padat dan lebih dipusatkan pada seni Cina seperti motif awan dan batu karang. 


D. SENI RUPA INDONESIA ISLAM

Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke 7 M oleh para pedagang dari Persia, India, Dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran agama Islam sekligus memperkenalkan kebudayaannya masing – masing, maka timbul akulturasi kebudayaan Seni rupa Islam juga dikembangkan oleh para empu di istana – istana sebagai sebuah media untuk pengabdian kepada para penguasa saat itu seperti Raja atau Sultan, kemudian dalam kaitannya dengan penyebaran agama Islam, para wali sanga pun berperan dalam mengembangkan seni di masyarakat daerah pedesaan, misalnya saja da’wah Islam yang disampaikan dengan media seni wayang. 

1. Ciri – Ciri Seni Rupa Indonesia Islam 
  • Bersifat feodal, yaitu sebuah kesenian yang bersifat di istana sebagai media untuk pengabdian kepada Raja atau Sultan di masa itu. 
  • Bersumber dari kesenian pra Islam atau kesenian prasejarah dan seni Hindu Budha. 

2. Karya Seni Rupa Indonesia Islam 

a. Seni Bangunan, yaitu: 

Mesjid
Pengaruh agama hindu terlihat pada bagian atas mesjid yang berbentuk limas yang bersusun ganjil seperti atap Balai Pertemuan Hindu Bali, contohnya pada atap mesjid Agung Demak dan Mesjid Agung Banten.

Istana
Istana atau keraton berfungsi sebagai tempat tinggal bagi Raja, pusat pemerintahan, serta pusat kegiatan agama dan budaya. Komplek istana bisaanya didirikan di pusat kota yang dikelilingi oleh dinding keliling dan parit pertahanan.

Makam
Arsitektur pada makam orang muslimin di Indonesia adalah hasil pengaruh dari tradisi non muslim. Pengaruh seni prasejarah tampak pada bentuk makam seperti punden berundak. Sedangkan pengaruh agama hindu terlihat pada nisannya yang diberi hiasan motif gunungan atau motif kala makara. Adapun pengaruh dari Gujarat India yaitu pada makam yang beratap sungkup.

b. Seni Kaligrafi, yaitu: 

Seni kaligrafi atau seni khat adalah kesenian tulisan indah. Kesenian agama Islam menggunakan bahasa arab. Sebagai bentuk simbolis dari rangkaian ayat – ayat suci Al – Qur’an. Berdasarkan fungsinya seni kaligrafi dibedakan menjadi, yaitu: 
  1. Kaligrafi terapan berfungsi sebagai dekorasi / hiasan. 
  2. Kaligrafi piktural berfungsi sebagai pembentuk gambar.
  3. Kaligrafi ekspresi berfungsi sebagai media ungkapan perasaan, contohnya seperti kaligrafi karya AD. Pireus dan Ahmad Sadeli. 

c. Seni Hias 

Seni hias islam selalu menghindari penggambaran makhluk hidup secara realis, maka untuk penyamarannya dibuatkan suatu stilasinya atau digayakan dan diformasi atau disederhanakan dengan bentuk tumbuh – tumbuhan. 


E. SENI RUPA INDONESIA MODERN

Istilah “modern” dalam seni rupa Indonesia yaitu betuk dan perwujudan kesenian yang terjadi karena pengaruh kaidah kesenian Barat atau Eropa. Di dalam perkembangannya sejalan dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. 

Masa Perintis
Dimulai dari suatu prestasi Raden Saleh Syarif Bustaman (1807 – 1880), beliau adalah seorang seniman Indonesia yang belajar kesenian di eropa dan saat kembali ke Indonesia ia menyebarkan hasil pendidikannya. Kemudian Raden Saleh dikukuhkan sebagai seorang bapak perintis seni lukisan modern.

Masa Seni Lukis Indonesia Jelita / Moek (1920 – 1938)
Ditandai dengan hadirnya sekelompok pelukis dari barat yaitu Walter Spies, Rudolf Bonnet, R. Locatelli, Arie Smite, dan lain – lain. Ada beberapa pelukis Indonesia yang mengikuti kaidah / teknik ini antara lain: Abdulah Sr, Pirngadi, Wahid Somantri, Basuki Abdullah, dan Wakidi.

Masa PERSAGI (1938 – 1942)
Peraturan Ahli Gambar Indonesia atau yang disingkat PERSAGI didirikan pada tahun 1938 di Jakarta yang diketuai oleh Agus Jaya Suminta dan sekretarisnya S. Sujoyono, sedangkan anggotanya Ramli, Otto Jaya S, Abdul Salam, Tutur, dan Emira Sunarsa yang merupakan pelukis wanita pertama Indonesia. PERSAGI memiliki tujuan agar para seniman Indonesia dapat menciptakan karya seni yang kreatif serta berkepribadan Indonesia. 

Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)
Pada jaman pendudukan Jepang, para seniman Indonesia disediakan wadah pada balai kebudayaan Keimin Bunka Shidoso. Para seniman yang aktif pada masa itu ialah Zaini, Kusnadi, Agus Jaya, Otto Jaya, dan lain-lain. Kemudian pada tahun 1945 berdiri lembaga kesenian dibawah naungan POETRA atau Pusat tenaga Rakyat oleh empat sekawan: Soekarno, Hatta, KH. Mansur, dan Ki Hajar Dewantara.

Masa Sesudah Kemerdekaan (1945 – 1950)
Pada masa ini seniman banyak teroragisir dalam kelompok – kelompok diantaranya adalah Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI) Djajengasmoro, Sanggar seni rupa masyarakat yang berada di Yogyakarta oleh Affandi, Seniman Indonesia Muda yang disingkat SIM di Madiun oleh S. Sujiono, Himpunan Budaya Surakarta (HBS), dan lain-lain 

Masa Pendidikan Seni Rupa Melalui Pendidikan Formal
Pada tahun 1950 di Yogyakarta berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia yang disingkat ASRI, yang sekarang namanya berubah menjadi STSRI singkatan Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia yang dipelopori oleh RJ. Katamsi, lalu di Bandung berdiri sebuah Perguruan Tinggi Guru Gambar yang sekarang menjadi Jurusan Seni Rupa ITB yang dipelopori oleh Prof. Syafe Sumarja. Selanjutnya Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang disingkat LPKJ dan disusul dengan jurusan – jurusan di setiap IKIP Negeri bahkan sekarag pada tingat SLTA. 

Masa Seni Rupa Baru Indonesia
Pada tahun 1974 muncul para seniman Muda baik yang berpendidikan formal maupun otodidak, seperti Harsono, Jim Supangkat, Munni Ardhi, S. Priaka, Dede Eri Supria,  Nyoman Nuarta, dan lain-lain.



Demikian penjelasan tentang Pengenalan Pendidikan Seni Rupa Indonesia Lengkap. Semoga artikel di atas bermafaat.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

Populer Hari Ini